Juniarto Suhandinata
"Cetak Pemain Berprestasi tak Bisa Instan"
Rabu, 18-04-2012 07:03 | Kategori: Bincang | Dibaca 1295 kali | Komentar : 0
"Cetak Pemain Berprestasi tak Bisa Instan" (sp+) Berita Terkait
BULUTANGKIS harus jadi olahraga yang merakyat layaknya sepakbola. BAC punya tanggung jawab untuk itu. Termasuk memantapkan bulutangkis di Olimpiade.
Tanggung jawab itu kini ada di pundak Juniarto Suhandinata, Vice President BAC (Badminton Asia Confederation) sekaligus Ketua Developement BAC. Saat ini, Juniarto juga Kepala Bidang Luar Negeri PB PBSI.
Harusnya keberadaan Juniarto di BAC bisa membawa pengaruh positif bagi bulutangkis Indonesia. Sayang, yang terjadi justru kebalikannya. Keberadaan Juniarto di BAC seperti tak ada artinya karena tak pernah dimanfaatkan langsung PB PBSI.
Juniarto terlahir dari keluarga yang begitu kental mencintai bulutangkis. Ayahnya, Soeharso Suhandinata (alm), adalah tokoh penggerak bulutangkis Indonesia. Begitu pula Justian Suhandinata, kakaknya. Tak heran jika kini peran Juniarto di level internasional sangat dibutuhkan.
Sejauhmana komunikasi yang dibangun Juniarto bersama PB PBSI? Bagaimana pula ia membaca peluang Indonesia mengembalikan supremasinya di Thomas-Uber Cup 2012 dan mempertahankan tradisi emas di Olimpiade 2012 London?
Berikut kutipan wawancara sportiplus.com dengan Juniarto:
Seperti apa komunikasi antara PB PBSI dan BAC?
Selama ini komunikasi kami cukup baik. Kalau merujuk pada Axiata Cup, cikal bakalnya adalah komunikasi antara PB PBSI dan TSA (Total Sport Asia) yang mendapat mention dari BAC. Dan, memang, masih sebatas itu.
Bagaimana BAC akan menindaklanjuti Axiata Cup?
BAC, TSA, dan Axiata sudah berkomitmen untuk melanjutkan kegiatan itu sampai 3 tahun ke depan. Rencananya, Axiata Cup akan jadi kejuaraan bulutangkis tahunan di Asia Tenggara, mungkin juga Asia. Format tidak akan berubah (2 tunggal, 1 ganda). PB PBSI telah meminta kepada kami untuk menambah nomor putri. Kami akan membicarakannya lagi karena terkait soal biaya.
Terkait apa saja pembenahan yang sebaiknya dilakukan PB PBSI?
Menciptakan atlet berprestasi tak bisa instan. Apa yang dilakukan Ketua Umum PB PBSI sekarang (Djoko Santoso) sudah cukup baik, tapi hasilnya memang tidak bisa dilihat sekarang.
PB PBSI kembali berlakukan pelatnas pratama yang sebelumnya sempat dihapuskan. Ini bagus untuk menciptakan kaderisasi dari pemain-pemain senior. Mungkin 3-4 tahun mendatang baru bisa dilihat pebulutangkis muda Indonesia berkibar lagi.
Bagaimana dengan peranan Anda di BAC?
Sebagai Ketua Development BAC, tugas utama saya adalah memasyarakatkan dan mengedepankan bulutangkis, khususnya di negara Asia yang didera keterbelakangan prestasi dalam kaitannya dengan Olimpiade.
Tentu kami tidak ingin bulutangkis terdepak dari cabang yang dimainkan di Olimpiade. Sudah diperjuangkan dengan susah payah, masa harus kalah dengan cabang lain.
Apa yang dilakukan bidang yang Anda pimpin dalam upaya memasyarakatkan bulutangkis di kawasan Asia?
Programnya banyak. Salah satunya adalah Shuttle Time, yaitu memperkenalkan bulutangkis secara umum melalui sekolah-sekolah yang prestasi bulutangkisnya terbelakang. Bahkan, kalau bisa bulutangkis jadi olahraga nomor 1 di sekolah layaknya sepakbola.
Selain itu, kami juga membuat training centre, coaching clinic, penataran pelatih, dan memberi subsidi.
Bagaimana Anda menakar peluang Indonesia di Thomas-Uber Cup 2012?
Mudah-mudahan semifinal saja masih mampu. Kalau bisa sampai final, semua masih bisa berubah. Jangan berkata Indonesia pasti kalah. Di nomor beregu, banyak faktor yang mempengaruhi. Dari segi kemampuan atlet, Indonesia masih cukup mumpuni bersaing di tingkat dunia.
Bagaimana dengan peluang bulutangkis Indonesia di Olimpiade 2012?
Jujur, Hendra Setiawan/Markis Kido tidak bisa terlalu diharapkan. Harapan hanya bertumpu ke Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di ganda campuran. Tapi, siapa tahu, Taufik Hidayat atau Simon Santoso membuat kejutan. Yang penting doa restu dari masyarakat Indonesia.
Melihat hasil terakhir Towi/Lily di All England, peluangnya di atas 50%. Kalau mereka tidak merasa terbebani dan tidak demam panggung, harusnya peluang itu jauh lebih besar dari 50%.














