Drs BA Sardjono
Geregetan Bulutangkis
Senin, 04-06-2012 01:27 | Kategori: Ulah | Dibaca 959 kali | Komentar : 0
Geregetan Bulutangkis (sp+) Berita Terkait
DUKUNG anak muda kreatif dan sportif. Begitulah Drs BA Sardjono. Siapa pria berkumis ini? Ia, pastinya, fasih bicara soal bulutangkis.
Nyaris tak ada yang hirau ketika Sardjono berada di tengah hiruk pikuk nobar akbar duel Bayern Muenchen kontra Chelsea di final Champions League 2011/2012 di The Oval Plaza Epiwalk Rasuna Epicentrum, Jakarta, 19 Mei 2012.
Sardjono, sosok yang sudah melintasi 3 zaman mulai era Soekarno, Soeharto hingga reformasi, hadir atas undangan pihak BNI 46 selaku penggelar nobar akbar itu. Maklum, ia termasuk nasabah istimewa BNI 46.
Lalu, apa kaitan Sardjono dengan bulutangkis?
Ternyata, Sardjono adalah bagian dari pengurus PB PBSI 1981-1985 pimpinan Ferry Sonneville (alm). Pos tugasnya bidang dana bersama Tirto Utomo (alm), bos Aqua.
Semasa aktif di PB PBSI, Sardjono sempat mengecap sukses. Ia bahu membahu bersama pengurus lain membawa tim Indonesia jadi juara Thomas Cup 1984. Di final, Indonesia menaklukkan China 4-1.
Tentang kemunduran prestasi bulutangkis Indonesia, klimaksnya kegagalan tim Thomas-Uber di Wuhan, China, Sardjono ikut geregetan. Ia spontan merujuk pada 4 faktor.
"Pemain, pelatih, pengurus, dan sarana. Ke-4 faktor ini saling mengkait. Harus saling dukung. Pengurus jangan cuma di belakang meja. Harus turun ke lapangan agar dekat dengan pelatih dan pemain. Dulu seperti itu dan bulutangkis Indonesia sangat tangguh," papar Sardjono kepada sportiplus.com di kediamannya di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan, Minggu (3/6).
Dengan lancar Sardjono menyebut deretan pebulutangkis hebat Indonesia sampai era 1990-an. Dan, ia akrab dengan mereka. Juga dengan Adam Malik (alm), saat itu Wakil Presiden RI dan rajin menyambangi korps bulutangkis nasional. Itu ditunjukkan dari foto-foto dokumentasinya.
"Jumlah pengurus PB PBSI di era lalu tidak banyak. Pelatih di pelatnas pun cuma Tahir Djide (alm), tapi bisa urus segala hal terkait pemainnya. Yang sekarang saya dengar sangat berbeda. Pengurus dan pelatihnya banyak, termasuk pelatih asing, tapi prestasi malah drop," cetus penguasa 3 bahasa asing ini.
Sardjono pun berharap segera ada solusi agar reputasi bulutangkis Indonesia pulih. Ia juga berharap pertemuan pengurus PB PBSI dengan para legenda di Cipayung berjalan efektif. Tak lupa, ia titip saran: PB PBSI sebaiknya percayakan saja pelatih pelatnas kepada para mantan pebulutangkis nasional.
Dari bulutangkis, Sardjono beralih bicara sepakbola. Pengagum klub Ajax Amsterdam dan timnas Belanda ini pun prihatin dengan kondisi sepakbola nasional yang terus dilanda kisruh.
"Seperti di bulutangkis, di sepakbola juga terlalu banyak orang mau jadi pengurus dengan pamrih. Mengurus olahraga itu harus berangkat dari kecintaan dan dedikasi tinggi. Bukan malah cari nama dan cari untung," katanya.
Begitulah Sardjono, putra ke-6 dari 9 bersaudara yang sejak muda hingga kini intens berkeliling ke berbagai negara. Ia memang lekat dengan olahraga meski tak pernah jadi atlet sungguhan.
Kini, selain memandu kelompok tai chi, ia juga kerap menemani putra tunggalnya berolahraga boling, tenis meja, dan catur. Lebih dari itu, ia selalu tergerak mendukung anak-anak muda kreatif dan sporitf.














