24 Februari 2012 | 03:06
Olimpiade 2012
Alasan Penetapan Kuota 50 Atlet
Rita Subowo Ketua Umum KOI & Wakil Presiden OCA (Olympic Council Asia). FOTO: SPORTIPLUS.COM/Fajarth
TARGET 50 atlet yang berangkat ke Olimpiade London 2012 kecil dapat terealisasi. Sedikitnya jumlah ofisial jadi alasan utama penetapan kuota itu.
Sejak awal, pemerintah, Satlak Prima dan KONI Pusat sibuk mencari kuota 50 atlet untuk diberangkatkan ke London, 27 Juli-12 Agustus 2012. Fakta di lapangan, hal ini memang sulit terwujud.
Bahkan, beberapa cabang yang peluangnya kecil dan masih harus ikut tahap pra kualifikasi tetap masuk proyeksi. Tak ada alasan pasti dasar penetapan kuota itu.
Satlak Prima maupun KONI Pusat selalu mengatakan, banyaknya cabang proyeksi ini dimasukkan guna membuka peluang medali Indonesia. Padahal, jika dipikir secara realistis, tak mungkin hal itu terwujud.
Rita Subowo, Ketua Umum KOI, pun tak sengaja angkat bicara. Menurut Rita, jatah ofisial yang terbatasi jadi alasan penetapan kuota itu. Sebab, dari jumlah atlet yang berangkat, hanya 55% jatah untuk ofisial.
"Saya perkirakan tak akan lebih dari 30 atlet yang berangkat. Artinya, hanya sekitar 16 ofisial resmi yang bisa diberangkatkan. Sementara, jumlah ofisial yang akan berangkat lebih dari jumlah itu. Belum lagi perwakilan dari Satlak Prima," ucap Rita Subowo kepada sportiplus.com, Kamis (23/2).
Kalau itu terjadi, ofisial harus di luar kontingen. Dan, semua biaya seperti penginapan dan tiket harus sendiri. Artinya, ada kekurangan dana untuk memberangkatkan ofisial-ofisial itu.
KOI hanya menganggarkan Rp 86 miliar untuk keberangkatan kontingen ke London. Itu pun belum tentu sepenuhnya bakal disetujui pemerintah.
Gerak cepat, Rita telah bekerja sama dengan kedutaan Indonesia di Inggris, termasuk Menteri Luar Negeri. Duta Besar Inggris untuk Indonesia juga sudah mendatangi KOI dan akan memberikan bantuan kemudahan selama penyelenggaraan event olahraga paling bergengsi itu.
Termasuk meminta Erick Thohir, CDM (Chief de Mission) kontingen Indonesia untuk Olimpiade mencari bantuan sponsor untuk menalangi kekurangan dana yang pasti bakal terjadi.
Sebut saja angkat besi atau bulutangkis yang jadi langganan medali Olimpiade Indonesia. Saat ini pemerintah, KONI maupun Satlak Prima tak lagi bisa bersandar pada 2 cabang andalan itu.
Selain persaingan yang semakin ketat, pembinaan dan pelatihan atlet juga kian tak jelas keberadannya. Dampaknya, hanya dana besar yang dikeluarkan tanpa timbal balik prestasi.
Bukan pesimis, tapi berbicara soal realistis, peluang Indonesia untuk mempertahankan emas Olimpiade sangat kecil.
"Indonesia jangan mimpi bisa rebut medali Olimpiade," ucap Djoko Pramono, praktisi olahraga nasional yang juga sepaham dengan Rudy Hartono, mantan pebulutangkis nasional kepada sportiplus.com.
tbz
BERITA LAINNYA
more...